BERSAMA REMAJA MENGHADAPI DUNIA MEDSOS
Sekarang ini, kita hidup didunia dimana perubahan bersifat eksponensial. Kita membantu mempersiapkan anak anak kita untuk suatu pekerjaan yang belum ada, untuk menggunakan teknologi yang belum ditemukan, dan untuk menyelesaikan masalah yang belum kita ketahui masalahnya.
Lalu bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk anak-anak kita pada sebuah dunia dengan transformasi dan ketidakpastian yang begitu radikal dan belum pernah terjadi sebelumnya?
10 tahun lalu, ketika anak2 menjelang remaja dan tidak bisa dicegah untuk terpapar teknologi social media, (antara takut, antara pingin tau) sayapun memaksa diri untuk belajar dan mengikuti trend yang ada sekaligus mengajari anak anak untuk bersocial media dengan harapan melakukannya dengan lebih sehat dan aman. Untuk saya waktu itu, lebih baik memperkenalkan ke anak2 duluan, belajar sama2, mengikuti perkembangan mereka di sosmed (berteman di semua medsos mereka) ketimbang mereka terpapar informasi dari yg lain yg ngga bisa saya ikutin (egoiskan ya?!🙈) . Mendampingi bukan mengawasi.
Diantara kegagapan berteknologi sekaligus excited, kepikiran juga tentang kondisi dunia seperti diatas. Dunia seperti apa 30 tahun mendatang?, yang pasti kecepatan informasi takkan terbendung lagi.
KENYATAAN HARI INI;
sekita 4 milyar orang dari jumlah populasi dunia menggunakan -media sosial- dan menurut sejumlah laporan, manusia menghabiskan rata-rata dua jam setiap hari untuk membagikan, menyukai, menulis cuitan dan memperbaharui perangkat ini. Artinya sekitar setengah juta cuitan dan foto Snapchat dibagikan setiap menit. Dan kecepatan beritanya? Dihitung dalam nano second.
Kalau minggu lalu saya sampaikan soal mega data yg beredar di dunia maya, tersimpan dengan sendirinya, terolah dalam system algoritma dan teknology AI yg berkembang begitu pesat. ini adalah kenyataan hari ini. Saya kok semakin yakin, Bahwa teknology akan lebih hafal dan tau ttg diri kita ketimbang diri kita sendiri?! (Gamang kalo mikir begini?)
Dan keterlibatan manusia dengan menggunakan Medsos otomatis membuka ruang dunia maya untuk menyimpan segenap data tentang diri kita hingga sedetail2 nya dengan pola algorithmic dan akurasi yg hampir pasti (Jejak digital)
Artikel ini sedikit memperlihatkan bagaimana cara kerja AI,
https://www.google.co.id/amp/s/futurism.com/1-evergreen-making-sense-of-terms-deep-learning-machine-learning-and-ai/amp/
Tantangan dalam bersosial media;
Sosial media yang berkembang demikian pesatnya, menawarkan berbagai kebutuhan informasi yang super woow mudahnya. Apa aja ada jika anda memerlukan informasi tentang bagaimana mengurus kucing, tentang penurunan gas emisi, moneter, apa saja tinggal googling anda bisa pintar seketika. Dengan kecepatan nano second ini, kecanduan akan alat teknologi tak terhindarkan bukan?, pertanyaannya kemudian siapkan kita sebagai manusia diera revolusi industri 4.0 ini?!
Hal paling mudah adalah “menyerah”, ngga perlu ngapa ngapain, diem aja. Algoritma dan data2 tentang dirimu akan mengolah dengan sendirinya. Semua keputusannu akan dikelola mesin dan otak artifisial. Bukan hanya itu?, jika hasratmu untuk tetap berinteraksi (pingin eksis) melalui sosial media juga bisa. Dijamin kegembiraan impulsif masih didapat. Kalo dulu Karl Max bilang Die Religion ... ist das Opium des Volkes - Agama adalah candu. Mirip dg itu Medsos adalah candu (kalo ngga mau dibilang agama baru #eh).
Kebanjiran Dopamine di otak akibat addictive karena mainan medsos ini juga bisa terjadi loh?!, lha wong nyandu.
Tapi, apa memang begitu?, apa kita mau kehilangan kendali atas diri sendiri?!, apa kita tak lagi mau mempertahankan masa depan yang bernama kehidupan dengan memegang tali kendali institusi tubuh dan pikiran kita sendiri. Masa datang akan berbunyi seperti ini ; dengan kehebatan bioteknologi, dan kecerdasan buatan yg mengagumkan, manusia harus bersaing dalam hal kecerdasan itu sendiri. Berlarilah lebih cepat, untuk itu kita perlu fleksibel, ringan dan ngga usah bawa banyak barang di tubuh dan pikiran kita. Gosah “Halu” atau delusi / ilusi. Tinggalkan semua ilusi, gunakan data real dan info yang akurasinya udah jelas.
Berikut tulisan dari ; Muhamad Afifudin Alfarisi, Mahasiswa Graduate Institute of Philosophy. National Central University Taiwan. PPI Taiwan (ppidunia.org) tentang tantangan dan peluang dalam social media sebagai referensi.
https://nasional.kompas.com/read/2017/12/10/10283451/skeptis-pada-media-sosial-tantangan-bagi-generasi-milenial?page=all#page1
Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dalam menghadapi dunia teknologi, terutama teknologi yg paling dekat digunakan sehari hari seperti medsos ini. Banyak banget ranjau yang harus diwaspadai antara lain;
Hoax (tau kan?) ,”Fomo” (fear of missing-out). Ketakutan akan ketinggalan interaksi di sosial media yg begitu mencandu, atau hanya menjadi pengguna yg “receh” dan kurang bermakna, akibatnya wajah pengguna hanya pada apa yang biasa diposting saja (untuk tau aja, jaman sekarang banyak HRD perusahaan atau kantor2 modern akan ngecek sosmed kalian jika ngelamar pekerjaan, jadi ngga cuma mengenali melalui cv saja, percuma nulis bagus2 kualifikasi di cv kalo di sosmednya sering nyebarin hoax, ga bakal di reken).
Selanjutnya tantangan bermedia sosial ada pada kualitas manusianya yang ngga bisa mengikuti kecepatan situasi yg berkembang. Pendidikan tradisional sekarang ini masih saja menjejali anak anak dengan informasi, padahal melalui social media jumlah informasi bisa alaihim gambreng banyaknya. Lepas dari info bener apa ngga?!, sementara di era seperti saat ini, bekal yang dibutuhkan adalah ; belajar anti hoax (pasti ga diajarin kan disekolah? Atau udah ada yg gurunya sukarela ngajarin hal ini?) pelajaran untuk membiasakan mencari reverensi tambahan terhadap sebuah informasi. Sekarang ini, alih alih demikian, yang sering terjadi justru kebiasaan antiverifikasi, belum paham benar situasi langsung saja nge klick menshare sesuatu, tidak bertanggung jawab atas berita yang diedarkan.
Meskipun Share informasi merupakan soal keputusan individu, apakah akan melakukan tindakan share atau tidak. Tapi tak ada salahnya banyak membaca untuk mencapai referensi dan menshare sesuatu yang bermanfaat. Hal ini juga akan menguntungkan performance pengguna medsos.
Hancurnya pemahaman yang tersekat sekat;
Melalui internet, social media, dan teknologi yang berkembang, takpelak lagi manusia akan semakin berjejaring secara global (bahkan sudah), bukan tak mungkin kedepan manusia sudah tak bersekat pada batasan antar negara, antar kultur, antar budaya.
Realitanya kita saat ini hidup dalam realita objektif, subjektif dan antar subjektif (harari). Realitas ini akan terus berjalan bersamaan dengan semakin berkembangnya teknologi. Saya lagi lagi percaya bahwa dunia tanpa sekat akan semakin terealisasi, sementara untuk mereka yang masih berfikir sektarian, ngga berani menglobal?, situ yakin bisa ngikutin semua ini? (Sinis parah nih aku)...
BELAJAR BERSAMA;
Karena kehadiran kemajuan teknologi yang begitu deras melebihi kecepatan suara, dan ukuran kedepan mungkin juga informasi diukur dengan kecepatan cahaya (lebay), maka cara aman adalah bekerja sama dengan anak untuk mulai mempelajari teknologi yang tak kasat mata ini (Internet of thing = IoT). Diskusikan setiap kali ada hal baru terjadi disekitar kita, terbuka, menggunakan data dan berusahalah tetap berfikiran fleksibel. Fleksibilitas kalau menurut yg saya alami sangat penting, butuh keberanian luar biasa untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda, thingking out of box, but in fact sekarang ini I event didn’t see where is the box is?!,
Karena ketika kita menjadi orang tua dimasa kini tak akan memahami apa yang akan kemudian terjadi dimasa datang, maka kita hanya bisa mengajak anak belajar bagaimana sejatinya menjadi manusia.
Dalam bukunya yang luar biasa Yuval Noah Harari menyebutkan;saat ini ide yang sederhana tetapi menakutkan adalah; sifat manusia akan berubah pada abad ke-21 karena kecerdasan melepaskan diri dari kesadaran.
Kita tidak akan membuat mesin dalam waktu dekat yang memiliki perasaan seperti kita manusia memiliki perasaan: yaitu kesadaran. Robot tidak akan jatuh cinta satu sama lain (yang tidak berarti kita tidak mampu jatuh cinta dengan robot). Tetapi kita ini telah membangun mesin - jaringan pemrosesan data yang luas - yang dapat mengetahui perasaan diri kita jauh lebih baik daripada diri kita sendiri: kecerdasan. Google - mesin telusur, (bukan perusahaan) - tidak memiliki keyakinan dan keinginannya sendiri.
Mesin atau system ini tidak peduli apa yang kita cari dan system atau mesin ini tidak akan merasa terluka oleh perilaku kita.
Tetapi alat tersebut dapat memproses perilaku kita untuk mengetahui apa yang kita inginkan sebelum kita mengetahuinya sendiri. Fakta itu memiliki potensi untuk mengubah apa artinya menjadi manusia.ya kan?, makanya ya (kakak. Adek. Gaees) belajar terus menerus dengan fleksibel adalah kuncinya. Berikut adalah link yang secara praktis mungkin dapat membantu kita mendampingi remaja baru gede yang ada dirumah. (Atau baca juga tautan2 lain sebagai referensi)
https://theconversation-com.cdn.ampproject.org/v/s/theconversation.com/amp/how-parents-and-teens-can-reduce-the-impact-of-social-media-on-youth-well-being-87619?amp_js_v=0.1&usqp=mq331AQGCAEoATgA#origin=https%3A%2F%2Fwww.google.co.id&prerenderSize=1&visibilityState=prerender&paddingTop=54&p2r=0&horizontalScrolling=0&csi=1&aoh=15381213620498&viewerUrl=https%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2Famp%2Fs%2Ftheconversation.com%2Famp%2Fhow-parents-and-teens-can-reduce-the-impact-of-social-media-on-youth-well-being-87619&history=1&storage=1&cid=1&cap=swipe%2CnavigateTo%2Ccid%2Cfragment%2CreplaceUrl
Catatan tambahan; Dalam komunikasi massa, media sosial ini adalah jembatan penghubung antara dirikita dengan publik dan dengan dunia luar, atau lebih specifik dengan jaringan kawan kawan yang akan mempengaruhi kehidupan kedepan. Social Media dan teknologi itu mitra, bukan musuh. Dan kalau kita ndak mulai untuk bersahabat dan belajar dengannya kita hanya akan jadi ah sudah lah... (mau bilang seonggok daging renta nangis dipojokan ngga berarti kok ya ngga tega)
Udah ah ...
Endah Nurdiana
#happyfriday
#belajarmedsos
#kangenygnyuruhbacaharari
#jarisantun
No comments:
Post a Comment