Ini adalah link hasil research Kantar Media dan Reuters Institute, untuk study mengenai journalism.
Dalam research tersebut menyatakan bahwa Peran berita di media sosial telah mencapai titik infleksi,
Peran berita yg pada masanya dulu dipegang oleh media mainstreem dengan segudang etika bermedia meyakinkan audiens bahwa berita yg dibaca memiliki tingkat akurasi yg baik.
Namun seiring dengan makin gencarnya sosial media, justru batasan2 etic semakin lemah, akurasi dari datapun semakin rendah. Dari pola yg terbuka menjadi jauh lebih tertutup. Kekacauan konten juga tak terhindarkan. Lihat saja ruang2 yg terbangun juga semakin exclusive dan private. Sehingga siapa coba yang akan mengatur informasi yg salah atau benar, jika kemudian persepsi atas satu berita bisa bercabang demikian besar?
Nah kita tengah menghadapi konfigurasi data yg super acak dan semakin lama semakin membuat pola komunikasi yg begitu riuh namun dari sisi data cukup mengkhawatirkan, karena relevansi konten dan kualitasnya bisa sangat buruk. Facebook misalnya bahkan informasi yg (meskipun yg disampaikan tingkat akurasinya masih dipertanyakan?) bisa makin ngga jelas ketika masuk ke ruang yg semakin tertutup dan mengambil alih slack nya. Seperti Whatsapp.
Sayangnya hal ini juga yg digunakan oleh pihak2 tertentu untuk memanipulasi data dan membangun kepercayaan manusia untuk semakin menguasai satu sama lain.
Hal ini pun belum termasuk algorithm yg bekerja pada system komputasi saat kita menggunakan media sosial ini. Taukan? jika kita terus menerus mempercayai dan membaca satu sumber berita maka otomatis tautan yg sama akan muncul disekitar bacaan yg kita download ataupun yg kita upload.
Dunia memang sedang bergerak secara acak, tapi rasanya kita harus tetap bijak menyikapinya
Selamat membaca link yg rasanya perlu untuk kita semua.
Jangan suka hoax lah ... karena seterusnya isi kepalamu akan mengarah kesitu ..😅
#belajarmedsos
#jarisantun
No comments:
Post a Comment