Hoax membunuhmu
(Ajakan kyai Ahmad Ishomuddin untuk segera dituliskan sebelum lupa, makasih pak kyai 🙏🙏)
Bagian terpenting dalam bermedia social adalah menempatkan media social dalam penggunaan sehari hari. Medsos ini adalah alat yang penggunanya ( pemanfaatnya) dilakukan oleh banyak individu yg ada di jagad raya ini. Sehingga berbagai macam pikiran dan kelakuan bisa saja diserap dan dikalkulasi melalui algoritma data tanpa pretensi apapun, asalkan jumlahnya besar maka akan begitu saja terakumulasi, menjadi viral dan beredar di dunia maya.
Jika kita belajar dari situasi yang terjadi akhir2 ini. Maka berita ttg Ratna Sarumpaet saja yang jelas2 menyebut dirinya adalah ratu hoax yang paling hebat saat ini, cukup menggugah pengguna dengan trending topik tentangnya yang menjadi begitu viral di media masa mainstreem dan media social . Dengan kejadian ini, apakah anda semua memandang hanya gejala alamiah biasa? Seperti hujan dan angin yang nantinya akan berlalu? Coba mari sama sama kita pelajari.
Hoax
Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefiniskan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekedar “misleading” alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.
Selanjutnya untuk lebih melihat tentang hoax silahkan baca wikipedia atau googling di tautan berikut;
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong
Ditambah tautan yg pernah saya posting beberapa waktu lalu, didalam hasil penelitian kantar media dan Reuters.
Jika merujuk pada definisi diatas maka, sebenarnya cara cara memanfaatkan hoax dalam berkehidupan kita saat ini sudah begitu kasar dan jahat. Contoh paling nyata adalah, bagaimana bahasa2 kebencian dan kemarahan ditebar begitu mudah hingga menyebabkan kematian.
Akibat langsung yang bisa kita lihat antara lain;
*)contoh seorang tukang service ampli sholat di masjid di tuduh mencuri dan di bakar hidup hidup2.
*)atau yg paling anyar adalah penggebukan oleh suporter bola yang menyebabkan kematian, hanya karena perbedaan pilihan atau perbedaan fans clubnya.
Dan rasanya masih banyak lagi hoax dan berbagai kata kebencian yang marak dan menggerakkan pikiran2 agresif dan kadang kala tidak disadari oleh sekelompok manusia yg akhirnya bisa menjadi mesin pembunuh.
Ada apa dg otak manusia?.
Tahun lalu saya dikasih tau Dr. Dharmawan Sp.Kj (dokter jiwa) bahwa sebenarnya gen orang Indonesia itu membawa gen cinta kasih. Akan tetapi jika terpapar terus menerus bisa menyebabkan juga kerusakan otak dan pola pikir.
Pada dasarnya, di otak manusia itu kita memiliki neuron cermin.
neuron cermin diaktifkan oleh pengamatan dan pelaksanaan tindakan, tetapi tidak oleh pengamatan objek saja. Banyak study mengindikasikan bahwa neuron cermin menyala saat merespon baik melalui tindakan maupun suara. Selanjutnya, neuron cermin juga diaktifkan baik oleh video yang memperlihatkan tindakan maupun video yang memperlihatkan suatu “niat” akan melakukan sesuatu. Beberapa studi juga mengindikasikan aktivasi neuron cermin terlihat saat subjek melihat tayangan klip video orang yang mengekspresikan rasa senang atau tidak senang, atau mengekspresikan emosi apapun yang mereka rasakan.
Lagi lagi saya mengambil referensi dan membaca sebagian besar artikel yg bertaut dari wiki pedia;
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mirror_neuron
Endah Nurdiana
Jika demikian halnya, maka paparan yang begitu masif apalagi jika hoax, akan sangat mempengaruhi, ya kan?, Bahkan oleh jutaan orang (di Indonesia).
Melaui penglihatan, pendengaran dan bacaan.
Lalu, Bagian mana di otak kita yang terpengaruh?
Seorang teman ahli neuroscientist pernah berbicara mengenai sistem limbik di otak kita.
Saya kutip sedikit dari artikel yg ada;
Sistem limbik adalah bagian otak yang terlibat dalam respons perilaku dan emosi, terutama ketika menyangkut perilaku yang kita butuhkan untuk bertahan hidup seperti mencari makan, reproduksi dan merawat keturunan, dan respon fight or flight (melawan atau melarikan diri) saat dihadapkan oleh situasi negatif atau pemicu stres.
Fungsi utama dari hippocampus itu sendiri adalah pembelajaran dan penyimpanan serta pengolahan memori jangka panjang.
Dalam konteks memori, hippocampus membantu mengolah dan mengambil kembali dua tipe spesifik dari memori jangka panjang yaitu:
• Memori eksplisit, yaitu memori yang terdiri dari fakta dan peristiwa yang secara sadar dilakukan. Sebagai contoh: Seorang aktor belajar untuk mengingat dialog dalam pertunjukan.
• Hubungan spasial, yaitu tipe memori yang membantu kita menghubungkan lokasi objek dengan objek referensi lain secara spesifik. Sebagai contoh: Supir taksi mengingat rute seluruh kota.
Berikut tautannya sebagai referensi ;
https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/fungsi-hippocampus-adalah/
Nah, jika bagian ini terpapar oleh sebuah informasi yang buruk, hoax atau contoh kondisi yg begitu menyeramkan, maka tinggal kita lihat saja sejauh mana kerusakannya. Ada yang masih dalam tahap paparan sederhana dan bisa dipengaruhi untuk kembali ke jalan yang benar, tapi jika sudah benar2 rusak seperti kepercayaan para teroris itu, ya cuma bisa dilakukan dengan mengoperasi sebagian kecil otaknya untuk dibuang. Lobotomi.
Ok, kembali pada peran hoax yang baru baru ini terjadi. Jelas kan ya bahwa Ratna S mengaku sebagai raja Hoax.?, lalu di sebuah acara TV seorang (yang tadinya) rekannya FH, menyatakan sudahlah di tutup saja kasusnya, dihentikan jangan di perpanjang, “dimaafkan” saja toh beliau adalah ibu2 tua (70 th) dan sudah mengaku serta sekarang sudah di proses hukum?!.
Tapi apasih yg terjadi sesungguhnya?!, publik dibikin bingung dg apa yg terjadi sesungguhnya. Jika ingat permainan politik yg dilakukan trump dengan konsultan politiknya?!,** maka perilakunyg di setting adalah framming untuk mempengaruhi batang otak masyarakat pada umumnya.
Kita seolah diajak melihat berita hoax berkali kali, lalu mengakui dan meminta maaf. Tercatat 3 kali dia (RS) membuat hoax lalu minta maaf?, ;
1. PT Dirgantara Indonesia Milik RRC
2. Pecahan Uang Rp 200 Ribu
3. Mengaku dipukuli
Dan kesemuanya berakhir dengan permintaan maaf, lha terus? Apa kita orang Indonesia bukan bangsa pemaaf ?,
?, Nah justru disitu kalau saya lihat bahwa munculnya drama yg berulang, diamini oleh orang2 yg seharusnya menjadi role model masyarakat. Menjadi semacam “pengaruh” tersembunyi yg jelas akan mempengaruhi sistim limbik manusia2 yg secara aktif bergaul dan terpapar dari media (alat modern yg secara teknik bigitu saja mengalgoritmakan kejadian tanpa pretensi.)
Batang otak kita seolah dipaksa melihat kebohongan, mengamini, lalu memaafkan beramai ramai. Dengan dalih kita harusnya memaafkan.
Bayangkan jika jumlah hoaxnya tidak hanya itu, bayangkan otak kita terbiasa kaget2 dg berita lalu dengan cepat harus memaafkan dan melupakan,
Bayangkan.!!!, itu seperti contoh di lab, seekor tikus yg di kandangin, ditakut takuti, kemudian di setrum (jerit2), lalu sesudahnya dikasih makan, disayang2. Dan terus demikian berulang ulang. Pasti si tikus akan resah kalo sesekali tidak di setrum, krn otaknya terlatih untuk di setrum dulu sebelum makan.
Ngeri bgt kalo hal2 begini.
Neorocermin yg kita miliki ini, pada masa kini otak kita dimanipulasi dengan sedemikian rupa melalui kejadian2 hoax yg akibatnya sudah sebegitu masif. Bahkan berbuah kematian.
Masihkah kita bisa rasional, apakah kita masih bisa ber emphaty ? kita sudah sangat sering mendengarkan hoax, kata kata kasar loh?, situ yakin kita tidak terpapar?
Sebuah ideologi kebencian yang diusung oleh berbagai pihak berulang ulang diwartakan, di manipulasi dibuat bingung dibuat marah?!, berulang ulang, kurang apa?!
Framing yg dibuat, tak lagi mengulas soal contoh baik, kegiatan baik, bahkan pembelajaran yg optimal untuk mengembangkan dan membangun bangsa ini. Alih alih seharusnya kita menghadapi milenium perubahan industri berbasis teknologi canggih, kemampuan tersebut justru digunakan untuk mencapai perasaan sympati yg tertanam dalam kalbu (otak primitif / bawah sadar) mereka, dan menjadikan kita ini tiba tiba jadi mesin pembunuh. Gampang banget terpicu marah, gampang banget jadi tidak rasional. “Senggol bacok” lah pokoknya.
Lagi lagi saya ndak ingin tiba tiba jadi ahli jiwa atau ahli bio- psykososial, tapi soal soal ini sudah begitu dekat dengan ruang2 pemikiran dan keseharian kita, apa mau terus menerus dibiarkan?!?
Regulasi yang ada di Indonesia belum cukup untuk menangkis situasi situasi seperti ini. Perhatikan saja kasus RS, kasus warga yang berbeda pilihan jenazahnya tidak disholatkan, kematian akibat pengeroyokan?, sejauh mana tertangani dengan maksimal?,
bukaaan ini bukan soal sakit hati karena kandidatnya tidak terpilih?, tapi soal perilaku kita yang semakin rendah tingkat toleransinya, soal generasi selanjutnya yang tidak disadari jadi beringas dan gampang brutal.
Juga soal soal kemalasan berfikir dan mencari preferensi lebih dahulu sebelum bertindak, sebelum meng upload informasi di media social dan soal etika yang mungkin sudah lama tak lagi masuk dalam kisah keseharian kita ini.
Ah kalo mau curhat, panjang banget sejarah dan perjalanan kehidupan kita ini. Hoax yang paling saya lihat adalah besarnya sekelompok orang yg intoleran dan sekterian terutama kebencian terhadap etnis china. Kasus2 brutal tahun 1998 apa ngga kurang ngeri?!, lupa? Atau bagaimana?!,
Ini adalah sejarah kelam bangsa ini kalo boleh jujur?, tapi bahwa lewat kecanggihan media social juga kita jadi bersatu padu lewat agenda asian games dan sekarang asian para games. Kita bisa tanpa sadar juga bisa bersatu padu, bangga jadi orang Indonesia dengan peringkat 6 nya.
Jadi kalau kemarin saya posting ; pendapat Budiman yang bilang “ Ini bukan soal cerdas apalagi genius. Hanya butuh ‘tidak gila’ saja utk mengakui bahwa hoax/fitnah itu tak pantas dpt porsi dalam kampanye politik.
Menurut saya sih penting untuk dipahami.
Teknology dan perubahan dunia sedang berjalan dengan atau tanpa kehendak kita semua, sebentar lagi tak pelak kita akan menjadi warga dunia. Masa sih kelas kesadaran kita masih ditataran primal insting yang gampang banget di pengaruhi oleh cara cara kerja hoax yang irasional.
Etika dalam berkebangsaan masih amat perlu. Dan cobalah waras selama masa kampanye ini. (Kok ya masa kampanye ini luama banget sih ya?)
Catatan;
**menggunakan Cambridge Analitical
Cambridge analitical adalah pola2 kerja untuk merubah behavior society dan digunakan di beberapa negara dan digunakan dalam kampanye pemilu, sayangnya methodanya memang jahat, dan colateral demage nya ngga nahanin.berikut tautan atau baca deh wiki pedianya.
https://www.investopedia.com/terms/c/cambridge-analytica.asp
#belajarmedsos
#jar
No comments:
Post a Comment